Selasa, 02 April 2013

Yong Dolah



Cerita Young Dollah “Memanjat Patung Liberty”
            Orang Indonesia selalu beruntung, bila susah untung tidak laparan, kalau pun kelaparan, masih untung tidak mati, dan begitulah seterusnya. Menyinggung masalah keberuntungan Young Dollah sering termasuk orang yang beruntung untuk itu kembali kita mendengar cerita Young Dollah.
            “Kata orang, Young pernah memanjat patung Liberty ? apakah betul, Yung ? “ Begini mula – mula Yung bekerja sebagai pengangkut air minum di sebuah kapal persiar. Setiap kapal itu singgah di pelabuhan Bengkalis. Yung yang di percayai Kaptenyo untuk mengisi air minum dikapalnyo, kerja itu Yung buat dengan bersungguh – sungguh. Pada suatu hari teringin pulak hati untuk masuk ke kamar mesin kapal tu “.
            “Apo Yung buat di kamar mesin itu ?”, tak taulah tapi isi perut Yung ni macam dicabik – cabik nak masuk kekamar tu’ karena tak tahan lagi Yung pun masuk. Mak.... mak... bukan maen beso mesinyo. Young tengok baut yang ado dimesin tu, Yung cubo hitung tapi tak terhitung oleh Yung di tambah lagi mesin itu berbunyi. Mano pulak Yung ingat dengan apo yang Yung hitung. Saking asiknyo, Yung tak dapat mendengo serine kapal yang mengisyaratkan bahwa kapal akan berangkat. “ kenapa Yung yak medengar ?”
            “Acam mano’ nak dengo, mesin kapal tu tak tanggung – tanggung bunyi nyo. Macam nak pecah gendang telingo Yung ni”. Bagaimana Yung tau bahwa kapal tu sudah berangkat ?” setelah Yung puas tengok mesin, Yung pun berhasrat naik ke darat, tapi alangkah terkejutnyo Yung, ketiko Yung tau Yung telah sampai di Amerika Serikat ?”
            “Yung tengok patung Liberty tercacak depan mato Yung, tentulah Yung sampai di Amerika. Di Bengkalis mano ado pulak patung macam tu, kalau pun ado cumo tunggol kelapo yang sudah mati. Yung tengok betul – betul patung Liberty tu. Dalam hati Yung becakap, “ tinggi betol patung ni”, siapo tukangnyo yo..... karena penasaraan patung tu, terlintas hati Yung nak memanjatnya. Tanpa pikir panjang lagi Yung panjat. Yung pegang kuat – kuat batu runcing tu dekat kepalonyo, yung tengok kiri, Yung tengok kanan. Mak... makk bukan maen besonyo kota Amerika ni. Bangunan nyo mencucuk langit macam roket.
            Meraso tak sedap hati lagi duduk disitu, Yung pun pindah dekat batu runcing yang lain, pas bagian belakang kepalo patung tu, Yung heran mengapo bangunan mencucuk langit semuo yang ado dikota itu. Yung berfikir Yung bermimpi, tetapi ketiko yung gosok – gosok mato Yung, bangunan mencucuk langit tu tak jugo hilang. Dalam hati Young bekato “ ini tak mimpi tapi memang nyato.” Setelah itu apa yang Yung lakukan ?” Yung diam ajo menikmati bangunan itu. Tapi tibo – tibo angin ribut datang, pegangan Yung lepas dan Yung pun melayang dibawa angin. “ apo terjadi setelah itu Yung ?” Yung pasrah, apo pun yang terjadi Yung tawakal sajo, Yung serah diri kepada Tuhan mato Yung, Yung pejamkan. Yung terus dibawa angin, setelah agak lamo Yung dibawa angin, tibo – tibo Yung tesangkut pado sebuah batang condong dan bukan maen besonyo. Yung pikir batang apo agaknyo. Batang meranti taklah sebeso ini, apo lagi batang getah. Karena perasaan Yung bukolah mato Yung. Rupo – ruponyo Yung tersangkut di menara Vissa.”
            “Sesudah itu apo yang Yung lakukan ?” fikir punya fikir Yung teringat bahwa dalam kocek Yung ado kail. Untuk menenangkan kepalo otak Yung, Yung pun mengail dari atas menara itu.
            “Umpannyo apo, Yung ?” Yung tak habis akal do, Yung pergi kepaso Italia itu sekejap. Yung beli belacan seratus rupiah, setelah itu Yung pun mulailah mengail. Yung melempolah kail Yung. Tapi Yung tak kuat menarik ikan tu. Bukan maen berat ikan yang memakan kail Yung., Yung pun tecamapak dibawa ikan tersebut. Yung tetap memegang tali kail Yung, karena takut Yung pun menutup mato Yung. Ikan terus membawa Yung dan ikan itu mengiro Yung mengejonyo 58 hari 58 malam lamonyo Yung di bawa keliling laut Atlantik oleh ikan itu. Mungkin kareno sudah letih, ikan itu tak kuat menarik Yung dan kami pun terdampar dipantai. Yung tengok betul – betul pantai. Tibo – tibo Yung meraso macam kenal dan seperti selalu Yung tengok. Tapi Yung belom berani merasokannyo.
            Yung gosok lagi mato, barulah Yung sadar bahwa pantai itu ternyata pantai Selat Baru. Keyakinan Yung bertambah kuat ketika Yung melihat tetengga Yung pergi menjaring. Hati Yung bukan maen sukonyo. Tapi ketika Yung naik kedarat ditangan Yung memegang sesuatu. Yung belik – belik ruponyo tali kail Yung tadi. Tanpo ragu Yung  pun menarik pelan – pelan tali kail tu. Yung tengok – tengok ruponyo ikan Bilis. Dalam hati Yung becakap “Engkau ruponyo, wahai Bilis yang membawaku selamo 58 hari 58 malam tu heee.



Young Jadi Imam
            Kali ini Nizam hitam legam, kawan aku yang suka bercerita ini, pun nak bercerita lagi. Tukang cerita atau pembual berbeda dengan pembengak. Pembual walaupun tak jelas mana yang benar dan mana yang benar, bercerita untuk melucu, maksud berbohong hanya sekedar untuk melucu. Pembengak, jelas bercerita tidak benar dan sengaja berbohong dengan maksud tidak baik. Walaupun kadang susah membedakan antara pembual dengan pembengak, aku mengelompokan Nizam sebagai pembua, bercerita (walau pun ada bohongnya) tetapi hanya sekedar untuk melucu. Ini cerita Nizam yang lain tentang Yung Dollah.
            Kala masa itu, Yung pergi ke surau nak sholat Magrib. Imam tak datang. Terpaksalah Yung jadi imam. Rakaat 1 dan 2 pun selesai. Masuk ke rakaat ke 3. Pada sujud terakhir, Yung agak lambat bangkit. Abis bangkit ke duduk, baca syahadat, basikan sikit waktu, lalu baca salam lekom kanan dan kiri.
            Pas nak balek, ada aral sedikit hari hujan. Saat itu Bengkalis lagi musim hujan. Maka Yung dan kawan lainnya yang jadi makmum pun duduk sebentar. Aleh – aleh ada yang bertanya, “ Yung ngape ngentam lambat sangat bangket dari sujud terakhir tadi ?” Yung tadi terdengar anak ayam terciap – ciap. Ciap pertama tak sama dengan ciap kedua dan ciap selanjutnya. Yung itung ado 10 ciap”.
 Haaa.....Yung itung ciap ayam waktu sujud tadi ?”
Yee......
“Astaga.... ulang balek sholat magrib semua. Tak sempurna semayang kite. Cepat siket. Nanti abis waktu magibnya”.






Perjalanan Young Dollah ke Negeri Ngotjoleria
            Young Dollah waktu pergi ke negeri Ngotjoleria tapi harus ke Bukittinggi dari Pekanbaru untuk mengantar belacan. Maka berceritalah si pembual yang satu ini. “Young naik lori pergi ke Bukit Tinggi. Pas di atas bukit, Yuong tengok pemandangan  pakai keker..”Yung Dollah memulai bualanya.
“Ape yang nampak Yung ?” tanyaku.
“Tenampak pulau Bengkalis”
“macaaaaam betul ajo dikau cakap ni Yong, apo lagi Young ?”
“Haaa nampak mak lagi menampi beras, Yung pun berteriak : “Maaaaakk, kalau dah masak nanti, bilang ke Yung yo maaaaaakk !!!
“alaaaah mak, macam mano nak dengo, jarak Bukittinggi ke pulau Bengkalis itu ratusan kilometer lah Yung !! ah..... Yung ado – ado ajo.... “ bantah ku.
“Suko – suko akulah, , , kan aku yang sedang membual
Iyooooo pulaaaakkk”
Lalu Yung tersenyum sambil kentut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar