Cerita Young Dollah “Memanjat Patung Liberty”
Orang Indonesia selalu beruntung,
bila susah untung tidak laparan, kalau pun kelaparan, masih untung tidak mati,
dan begitulah seterusnya. Menyinggung masalah keberuntungan Young Dollah sering
termasuk orang yang beruntung untuk itu kembali kita mendengar cerita Young
Dollah.
“Kata orang, Young pernah memanjat
patung Liberty ? apakah betul, Yung ? “ Begini mula – mula Yung bekerja sebagai
pengangkut air minum di sebuah kapal persiar. Setiap kapal itu singgah di
pelabuhan Bengkalis. Yung yang di percayai Kaptenyo untuk mengisi air minum
dikapalnyo, kerja itu Yung buat dengan bersungguh – sungguh. Pada suatu hari
teringin pulak hati untuk masuk ke kamar mesin kapal tu “.
“Apo Yung buat di kamar mesin itu
?”, tak taulah tapi isi perut Yung ni macam dicabik – cabik nak masuk kekamar
tu’ karena tak tahan lagi Yung pun masuk. Mak.... mak... bukan maen beso
mesinyo. Young tengok baut yang ado dimesin tu, Yung cubo hitung tapi tak
terhitung oleh Yung di tambah lagi mesin itu berbunyi. Mano pulak Yung ingat
dengan apo yang Yung hitung. Saking asiknyo, Yung tak dapat mendengo serine
kapal yang mengisyaratkan bahwa kapal akan berangkat. “ kenapa Yung yak
medengar ?”
“Acam mano’ nak dengo, mesin kapal
tu tak tanggung – tanggung bunyi nyo. Macam nak pecah gendang telingo Yung ni”.
Bagaimana Yung tau bahwa kapal tu sudah berangkat ?” setelah Yung puas tengok
mesin, Yung pun berhasrat naik ke darat, tapi alangkah terkejutnyo Yung, ketiko
Yung tau Yung telah sampai di Amerika Serikat ?”
“Yung tengok patung Liberty tercacak
depan mato Yung, tentulah Yung sampai di Amerika. Di Bengkalis mano ado pulak
patung macam tu, kalau pun ado cumo tunggol kelapo yang sudah mati. Yung tengok
betul – betul patung Liberty tu. Dalam hati Yung becakap, “ tinggi betol patung
ni”, siapo tukangnyo yo..... karena penasaraan patung tu, terlintas hati Yung
nak memanjatnya. Tanpa pikir panjang lagi Yung panjat. Yung pegang kuat – kuat
batu runcing tu dekat kepalonyo, yung tengok kiri, Yung tengok kanan. Mak...
makk bukan maen besonyo kota Amerika ni. Bangunan nyo mencucuk langit macam
roket.
Meraso tak sedap hati lagi duduk
disitu, Yung pun pindah dekat batu runcing yang lain, pas bagian belakang
kepalo patung tu, Yung heran mengapo bangunan mencucuk langit semuo yang ado
dikota itu. Yung berfikir Yung bermimpi, tetapi ketiko yung gosok – gosok mato
Yung, bangunan mencucuk langit tu tak jugo hilang. Dalam hati Young bekato “
ini tak mimpi tapi memang nyato.” Setelah itu apa yang Yung lakukan ?” Yung diam
ajo menikmati bangunan itu. Tapi tibo – tibo angin ribut datang, pegangan Yung
lepas dan Yung pun melayang dibawa angin. “ apo terjadi setelah itu Yung ?”
Yung pasrah, apo pun yang terjadi Yung tawakal sajo, Yung serah diri kepada
Tuhan mato Yung, Yung pejamkan. Yung terus dibawa angin, setelah agak lamo Yung
dibawa angin, tibo – tibo Yung tesangkut pado sebuah batang condong dan bukan
maen besonyo. Yung pikir batang apo agaknyo. Batang meranti taklah sebeso ini,
apo lagi batang getah. Karena perasaan Yung bukolah mato Yung. Rupo – ruponyo
Yung tersangkut di menara Vissa.”
“Sesudah itu apo yang Yung lakukan
?” fikir punya fikir Yung teringat bahwa dalam kocek Yung ado kail. Untuk
menenangkan kepalo otak Yung, Yung pun mengail dari atas menara itu.
“Umpannyo apo, Yung ?” Yung tak
habis akal do, Yung pergi kepaso Italia itu sekejap. Yung beli belacan seratus
rupiah, setelah itu Yung pun mulailah mengail. Yung melempolah kail Yung. Tapi
Yung tak kuat menarik ikan tu. Bukan maen berat ikan yang memakan kail Yung.,
Yung pun tecamapak dibawa ikan tersebut. Yung tetap memegang tali kail Yung,
karena takut Yung pun menutup mato Yung. Ikan terus membawa Yung dan ikan itu
mengiro Yung mengejonyo 58 hari 58 malam lamonyo Yung di bawa keliling laut
Atlantik oleh ikan itu. Mungkin kareno sudah letih, ikan itu tak kuat menarik
Yung dan kami pun terdampar dipantai. Yung tengok betul – betul pantai. Tibo –
tibo Yung meraso macam kenal dan seperti selalu Yung tengok. Tapi Yung belom
berani merasokannyo.
Yung gosok lagi mato, barulah Yung
sadar bahwa pantai itu ternyata pantai Selat Baru. Keyakinan Yung bertambah
kuat ketika Yung melihat tetengga Yung pergi menjaring. Hati Yung bukan maen
sukonyo. Tapi ketika Yung naik kedarat ditangan Yung memegang sesuatu. Yung
belik – belik ruponyo tali kail Yung tadi. Tanpo ragu Yung pun menarik pelan – pelan tali kail tu. Yung
tengok – tengok ruponyo ikan Bilis. Dalam hati Yung becakap “Engkau ruponyo,
wahai Bilis yang membawaku selamo 58 hari 58 malam tu heee.
Young Jadi Imam
Kali ini Nizam hitam legam, kawan
aku yang suka bercerita ini, pun nak bercerita lagi. Tukang cerita atau pembual
berbeda dengan pembengak. Pembual walaupun tak jelas mana yang benar dan mana
yang benar, bercerita untuk melucu, maksud berbohong hanya sekedar untuk
melucu. Pembengak, jelas bercerita tidak benar dan sengaja berbohong dengan
maksud tidak baik. Walaupun kadang susah membedakan antara pembual dengan
pembengak, aku mengelompokan Nizam sebagai pembua, bercerita (walau pun ada
bohongnya) tetapi hanya sekedar untuk melucu. Ini cerita Nizam yang lain
tentang Yung Dollah.
Kala masa itu, Yung pergi ke surau
nak sholat Magrib. Imam tak datang. Terpaksalah Yung jadi imam. Rakaat 1 dan 2
pun selesai. Masuk ke rakaat ke 3. Pada sujud terakhir, Yung agak lambat bangkit.
Abis bangkit ke duduk, baca syahadat, basikan sikit waktu, lalu baca salam
lekom kanan dan kiri.
Pas nak balek, ada aral sedikit hari
hujan. Saat itu Bengkalis lagi musim hujan. Maka Yung dan kawan lainnya yang
jadi makmum pun duduk sebentar. Aleh – aleh ada yang bertanya, “ Yung ngape
ngentam lambat sangat bangket dari sujud terakhir tadi ?” Yung tadi terdengar
anak ayam terciap – ciap. Ciap pertama tak sama dengan ciap kedua dan ciap
selanjutnya. Yung itung ado 10 ciap”.
Haaa.....Yung itung ciap ayam waktu sujud tadi
?”
Yee......
“Astaga....
ulang balek sholat magrib semua. Tak sempurna semayang kite. Cepat siket. Nanti
abis waktu magibnya”.
Perjalanan Young
Dollah ke Negeri Ngotjoleria
Young Dollah waktu pergi ke negeri
Ngotjoleria tapi harus ke Bukittinggi dari Pekanbaru untuk mengantar belacan.
Maka berceritalah si pembual yang satu ini. “Young naik lori pergi ke Bukit
Tinggi. Pas di atas bukit, Yuong tengok pemandangan pakai keker..”Yung Dollah memulai bualanya.
“Ape yang nampak
Yung ?” tanyaku.
“Tenampak pulau
Bengkalis”
“macaaaaam betul
ajo dikau cakap ni Yong, apo lagi Young ?”
“Haaa nampak mak
lagi menampi beras, Yung pun berteriak : “Maaaaakk, kalau dah masak nanti,
bilang ke Yung yo maaaaaakk !!!
“alaaaah mak,
macam mano nak dengo, jarak Bukittinggi ke pulau Bengkalis itu ratusan
kilometer lah Yung !! ah..... Yung ado – ado ajo.... “ bantah ku.
“Suko – suko
akulah, , , kan aku yang sedang membual
Iyooooo
pulaaaakkk”
Lalu Yung
tersenyum sambil kentut.